Category Archives: Wawancara

  • 0

PENDIRI DAN PELAKU APLI

Tags : 

pak edi budiman

Wawancara Eksklusif dengan

Eddy Budhiman

Jika saat ini di Indonesia kita mengenal APLI (Asosiasi Penjualan Langsung Indonesia) sebagai tempat bernaungnya perusahaan – perusahaan DS/MLM dalam menjalankan bisnis, maka jauh sebelumnya, tepatnya pada tahun 1984, organisasi yang pertama kali berdiri adalah IDSA (Indonesia Direct Sales Association) yang didirikan oleh Bapak Eddy Budhiman. Saat pertama kali mendirikan IDSA (Indonesia Direct Sales Association), Bapak Eddy Budhiman masih bergabung di PT. Tigaraksa.

Sejak tahun 1970an, Bapak Eddy Budhiman selalu mewakili Indonesia dan PT. Tigaraksa untuk menghadiri pertemuan – pertemuan internasional yang diadakan oleh World Federation of Direct Selling Associations (WFDSA) setiap tahunnya guna membahas perkembangan dan kemajuan dunia direct selling. Saat itu beberapa kali Bapak Eddy Budhiman diminta dan ditunjuk untuk menjadi perwakilan asosiasi penjualan langsung di Indonesia, dan beberapa kali pula beliau menolak.
Seiring berjalannya waktu, dan atas permintaan dari
Mr. Robert King, Chairman of WFDSA, akhirnya pada tahun 1984, Bapak Eddy Budhiman setuju dan menyanggupi untuk menjadi pendiri dan Ketua Umum IDSA (Indonesia Direct Sales Association).

Bapak Eddy Budhiman pun mengawali berdirinya IDSA di Indonesia dengan membuat logo IDSA yang hingga kini masih digunakan oleh APLI. Pada logo IDSA, Bapak Eddy Budhiman menggunakan Candi Borobudur yang dimaksudkan untuk menonjolkan identitas Indonesia. Dan Borobudur sendiri berbentuk seperti segitiga yang posisi atasnya mengerucut. Bentuk ini dimaksudkan sebagai harapan agar seluruh anggota – anggota dapat bersatu dalam satu titik tujuan.

Pada awal berdirinya IDSA hanya beranggotakan 5 perusahaan, yakni 3 perusahaan buku, 1 perusahan lingerie dan AVON. Kemudian baru diikuti oleh CNI dan Oriflame. Pada saat itu, tugas IDSA sendiri pada saat itu adalah melayani dan membantu perusahaan – perusahaan DS/MLM untuk membuka perusahaan di Indonesia. Awal menjalankan IDSA tidaklah mudah karena dulu, perusahaan – perusahaan DS/MLM masih memikirkan alasan mengapa harus bergabung dengan IDSA . Selain itu, akan dikenakan biaya keanggotaan untuk bergabung menjadi anggota IDSA dan akan terikat dengan kode etik penjualan yang sesuai dengan peraturan IDSA.
Kembali ke tahun 1980-an. Diceritakan oleh Bapak Eddy Budhiman, pada saat itu perusahaan – perusahaan DS/MLM sangat kacau. Perekrutan – perekrutan yang dilakukan oleh perusahaan – perusahaan DS/MLM sangat memaksa publik hingga akhirnya mendapatkan citra yang buruk. Karena kericuhan ini, maka IDSA akhirnya menerapkan kode etik yang lebih ketat lagi untuk mengatasi kenakalan-kenakalan yang dilakukan perusahaan-perusahaan DS/MLM dahulu. Hal inilah yang membuat IDSA semakin kesulitan menarik perusahaan DS/MLM untuk bergabung sebagai anggota.

Selama dipimpin oleh Bapak Eddy Budhiman, IDSA tidak memiliki kepengurusan seperti saat ini di APLI. Semuanya dilakukan oleh Bapak Eddy Budhiman sebagai Ketua Umum dan Bapak Yusuf dari Perusahaan Buku Britannica sebagai Wakil Ketua. Dari 5 anggota akhirnya IDSA berkembang dengan 54 anggota yang terdaftar.

Sampai akhirnya pada tahun 1992, Bapak Eddy Budhiman mengalihkan kepengurusan IDSA kepada Bapak Helmy Attamimi yang menjabat sebagai Ketua Umum sampai dengan 2012 dan kini menjadi penasihat APLI.

 

Helmy_1

Kenangan Wawancara Eksklusif dengan

Alm. Helmy Attamimi

Dengan kerja keras dan kerja sama, semoga banyak tantangan dapat diatasi. Semoga!”
Demikian kira-kira sepenggal kalimat yang kami kenang dari wawancara dengan Pak Helmy Attamimi (Alm) seorang tokoh yang terkenal di dunia Multi Level Marketing, yang hingga akhir hayatnya beliau aktif menjabat sebagai penasehat APLI. Semasa hidupnya beliau adalah seorang ayah yang menerapkan disiplin tinggi kepada anak-anaknya dan juga seorang pengusaha yang sukses dalam menjalankan bisnis yang dipercayakan kepadanya.

APLI (Asosiasi Penjualan Langsung Indonesia) berdiri pada tahun 1984. Berawal dari kunjungan yang dilakukan oleh Pak Eddy Budhiman yang pada saat itu menjabat sebagai Ketua Umum IDSA (Indonesia Direct Sales Assosiation) ke kantor tempat kerja beliau adalah menjadi awal pertemuan keduanya. Hubungan ini terus berlanjut karena pada saat itu perusahaan beliau sudah menjadi anggota IDSA.

Seiring berjalannya waktu, Pak Eddy Budhiman merasa sudah saatnya IDSA mengalami reformasi. Oleh sebab itu, Pak Eddy Budhiman mengamanatkan posisi Ketua Umum IDSA kepada Pak Helmy Attamimi.

Sebagai Ketua Umum yang baru, Pak Helmy Attamimi menghadiri seminar tahunan WFDSA yang diadakan di Berlin tahun 1993. Disana, beliau menyadari bahwa asosiasi di India pun menggunakan nama yang sama, IDSA (India Direct Selling Assosiation). India sudah lama bergabung dengan WFDSA dan bahasa pengantarnya pun adalah bahasa Inggris sehingga India lebih berhak menggunakan nama IDSA tersebut. Oleh sebab itu, sepulangnya dari Berlin, Pak Helmy Attamimi memikirkan nama apa yang tepat untuk menggantikan nama IDSA. Setelah lama berpikir dan berdiskusi, untuk membangkitkan rasa kebangsaan dan bangga berbahasa Indonesia, maka diputuskan IDSA berubah menjadi APLI (Asosiasi Penjualan Langsung Indonesia) sebagai nama yang tepat untuk menggantikan IDSA (Indonesia Direct Sales Assosiation). Walaupun nama IDSA sudah diubah menjadi APLI, akan tetapi logo yang digunakan tetap menggunakan logo IDSA.

Pada awal berdirinya APLI, Pak Helmy tidak serta merta menerima posisi menjadi Ketua Umum. Beliau masih berusaha untuk mencari orang yang lebih terpanggil guna menjalankan dan membesarkan APLI ke depannya. Beberapa kali beliau mencoba menawarkan posisi tersebut kepada beberapa orang, tetapi ditolak dengan alasan kesibukan dan beban tanggung jawab masing-masing. Karena banyaknya yang menolak tawaran ini, maka akhirnya oleh anggota asosiasi beliau ditunjuk menjadi Ketua Umum dan terus menjalankan tugasnya sebagai Ketua Umum APLI hingga menjadi besar seperti sekarang.

Berdirinya APLI bukanlah perkara yang mudah pada awalnya, banyak permasalahan internal dan eksternal yang harus dibenahi serta memakan waktu bertahun-tahun. Sebagai Ketua Umum APLI yang menjabat selama 20 tahun, banyak selentingan / desas-desus yang tidak enak mengenai posisi beliau yang tidak tergantikan. Oleh sebab itu, Pak Helmy meminta diadakan sistem demokrasi dalam pemilihan Ketua Umum. Namun rupanya, beliau selalu terpilih dan dipercaya kembali menjadi Ketua Umum secara berturut-turut hingga 20 tahun.

Ada satu pernyataan beliau yang menarik, yaitu bahwa MLM adalah bagian dari direct selling dan bukan kebalikannya. Pak Helmy juga menekankan pentingnya kode etik dalam dunia MLM.

Kalau kita tanyakan kepada beliau tentang apa tantangan yang paling berat selama memimpin APLI, maka jawabannya sangat singkat, “ketika menjadikan semuanya satu dan mencegah terjadinya konflik”. Itulah yang diterapkan Almarhum selama 20 tahun memimpin APLI. Walhasil, kini APLI telah berkembang menjadi organisasi yang sangat kuat.

Sepanjang perjalanan beliau membesarkan APLI selama kurun 20 tahun ini, banyak hal yang sudah dihasilkan beliau bagi perkembangan perusahaan-perusahaan MLM/DS di Indonesia. Salah satu hal luar biasa yang di lakukannya adalah kemampuan untuk menyatukan APLI dengan Pemerintah sehingga dikeluarkannya Peraturan Menteri No.32 mengenai MLM/DS. Hal ini berbanding terbalik dengan keadaan di luar negeri, di mana MLM/DS masih berseberangan dengan pihak pemerintah.

Selamat jalan Bapak Helmy Attamimi. Jasa-jasa beliau untuk APLI dan perkembangan industri DS/MLM akan terus dikenang.

 

_MG_014822

Wawancara Eksklusif dengan

Koen Verheyen

NN (Network News): Merupakan suatu kehormatan untuk mewawancarai salah satu pendiri APLI. Sejauh perkembangan APLI selama 30 tahun Pak Koen berada dalam industri direct selling Indonesia. Bagaimana sejarah Bapak dengan APLI?

KV (Koen Verheyen): Saya bergabung dengan Oriflame pada tahun 1986. Saat itu Oriflame adalah MLM pertama di Indonesia. Pada Maret 1986 di Indonesia hanya ada beberapa perusahaan direct selling. Saat itu, Oriflame masih mencari-cari asosiasi yang menaungi industri direct selling di Indonesia. Selanjutnya saya ikut meeting IDSA (Indonesia Direct Selling Association) di Chase Plaza, yang merupakan kantor Pak Eddy Budhiman ketua APLI pertama. Sejak pertama kali meeting IDSA, saya diajak mengikuti kepengurusannya. Saya didelegasikan sebagai Public Relation-nya. Peristiwa ini sudah hampir 30 tahun lalu jadi saya sudah agak lupa apa detailnya. Tapi yang pasti saat itu struktural masih belum tertata jelas, meeting juga belum terjadwalkan secara rutin.

Pada tahun 1987, IDSA mengikuti World Congress WFDSA (World Federation of Direct Selling Associations) di Singapura. Ini merupakan kesempatan yang baik untuk ikut karena lokasinya dekat. Waktu itu saya berangkat bersama Pak Abrian Natan (CNI), Pak Eddy Budhiman, dan beberapa pengurus lainnya. Ketua WFDSA saat itu Mr. Suzuki dari Jepang dari Pola Cosmetic yang kemudian pada World Congress itu digantikan oleh perwakilan MLM Natura dari Brazil. Adapun selanjutnya World Congress lebih banyak diselenggarakan di Amerika Latin.
NN: Tantangan paling berat saat itu apa Pak?
KV: Tidak ada yg mengerti direct selling. Tidak ada regulasi yang mengatur mengenai industri ini. Bahkan belum ada campur tangan pemerintah.

NN: Bagaimana proses pergantian nama IDSA menjadi APLI dan kapan itu terjadi?
KV: Pada World Congress WFDSA di Berlin, Jerman pada 1993 ada papan dari semua anggota di seluruh dunia. Ada dua IDSA yaitu India dan Indonesia. Pada saat itu juga ada gerakan untuk menggunakan Bahasa Indonesia sebagai brand. Sejak itulah nama IDSA berubah menjadi APLI. IDSA resmi menjadi APLI sejak 1994.

NN: Pada 10 tahun pertama apa saja kegiatan APLI?
KV: Sepuluh tahun itu kegiatan APLI lebih fokus kearah masalah internal dengan tujuan perusahaan tunduk pada payung hukum yang ada di Indonesia untuk menjaga kepercayaan pemerintah. Saat itu anggotanya hanya 12 – 15 perusahaan.

NN: MLM sedang growing di Indonesia pada tahun 1990 – 2000-an, tantangan apa yang dihadapi APLI?
KV: Banyak perusahaan Indonesia yang ingin mencoba direct selling karena sedang booming. Namun kemudian berhenti begitu saja karena tidak memiliki pengalaman. Oleh karena itu, banyak juga yang mempengaruhi iklim MLM di Indonesia secara negatif. Ini terjadi karena mereka tidak memikirkan nasib distributor yang telah meluangkan waktu, tenaga dan biaya untuk mengembangkan bisnis mereka. Di dalam kode etik pun belum ada yang melindungi distributor. Saat ini yang ada hanya kewajiban perusahaan untuk membayar kompensasi, tapi belum ada perlindungan distributor untuk kedepannya.

NN: Bagaimana proses pengawasan terhadap MLM/DS selama ini?
KV: Anggota APLI harusnya menjadi yang pertama dalam mematuhi peraturan yang ada. Bahkan mereka mempunyai peraturan internal yang lebih ketat didalamnya. Harusnya kalau tidak bisa jadi anggota APLI, maka tidak bisa mendapatkan SIUPL. APLI dapat mengawasi anggotanya, sehingga ke depannya keanggotaan APLI mampu menjadi ‘jaminan’ bagi semua pihak.

NN: Bagaimana Anda menyikapi tantangan pada industri direct selling saat ini?
KV: Tantangan merupakan peluang untuk menjadi lebih baik. Konsumen sekarang dengan konsumen 10-20 tahun berbeda. Yang sekarang lebih kritis. Konsumen sekarang mampu untuk menilai. Perusahaan harus mampu memastikan bahwa mereka dapat memuaskan konsumennya. Konsumen konvensional mempunyai sedikit informasi dari label dan keterangan dari iklan, sedangkan informasi direct selling bisa lebih dijabarkan lebih detail dari sekedar label dan iklan . Di sinilah pentingnya peranan training-training. Direct selling bukan hanya to educate saja tapi juga to satistify konsumen. “No direct selling without consumer”

NN: Bagaimana tanggapan pemerintah terhadap industri direct selling?
KV: Sekarang pemerintah jauh lebih baik karena pengertian dari bisnis kita jauh lebih luas dan detail dibanding dulu. Setiap negara ada kecenderungan untuk melindungi ekonomi negaranya dalam keadaan ketidakpastian ekonomi global sehingga akan lebih giat. Tetapi, untuk Indonesia perkembangan ekonomi 5-6% sudah cukup baik karena tidak banyak negara mampu melakukannya untuk saat ini, walaupun sebenarnya masih banyak pekerjaan rumah bagi Indonesia.

NN: Bagaimana Bapak menanggapi era internet dengan industri direct selling?
KV: Era internet adalah komunikasi shifting. Yang tidak akan hilang adalah person to person. Internet adalah channel untuk transaksi dengan sedikit informasi, tetapi tetap harus menjaga person to person-nya.

NN: Apa impian Bapak Koen kedepannya untuk APLI dan industri direct selling di Indonesia?
KV: Semoga ke depannya APLI dapat menjadi asosiasi yang mampu memperjuangkan perusahaan, konsumen, distributor dan negara.

NN: Hal apa yang membanggakan dari APLI menurut pandangan Bapak?
KV: Yang paling bisa ditonjolkan adalah APLI selalu menjadi narasumber pemerintah untuk direct selling. Ilmu yg dibagikan bukan hanya untuk kepentingan pribadi melainkan juga untuk kepentingan industri di Indonesia.

NN: Apa yang membuat Bapak bertahan dengan APLI dan industri direct selling selama 30 tahun terakhir ini?
KV: Saya bertahan karena passion saya di industri ini. Di industri ini peluang yang ditawarkan mampu mengubah kehidupan orang banyak. Setiap manusia punya kemampuan menjual tetapi apakah setiap orang mau menjual? Nah, disinilah seninya direct selling. Jadi waktu yang diluangkan adalah kunci keberhasilan di industri ini. “If you can’t motivated yourself you can’t motivated others”. Jadi semuanya tergantung ke diri sendiri. Jadi setiap orang yang bergabung di Industri ini harus bisa memotivasi dirinya sendiri.

NN: Bagaimana prospek direct selling/multi level company (DS/MLM) kedepannya?
KV: Kita lihat populasi Indonesia tinggi tentu saja peluangnya tinggi.

NN: Ada pesan singkat untuk mengakhiri wawancara ini?
KV: Yang dikejar pada visi perusahaan adalah membantu orang lain mewujudkan hidup yg lebih baik, sehingga yang diperoleh nantinya adalah profit. Jadi jangan sampai terbalik prinsip itu.