Industri Penjualan Langsung Prospektif

  • 0

Industri Penjualan Langsung Prospektif

Tags : 

PERDAGANGAN

Industri Penjualan Langsung Prospektif

Kompas, 21 April 2016

Penulis: (CAS)

Hal: 18

JAKARTA, KOMPAS — Industri penjualan langsung dinilai cukup prospektif untuk berkembang lebih jauh di Indonesia. Hal ini ditopang bonus demografi penduduk yang didominasi warga berusia muda dan produktif serta perkembangan kelas menengah di Indonesia.

“Sebanyak 70 persen penduduk Indonesia berusia produktif. Kondisi seperti ini jarang terjadi. Jepang pernah mengalaminya pada tahun 1950 dan mampu menggunakan momentum besarnya jumlah usia produktif itu,” kata Ketua Umum Asosiasi Penjualan Langsung Indonesia (Apli) Djoko Hartanto Komara, Rabu (20/4), di Jakarta.

Bonus demografi di Indonesia diperkirakan memuncak pada 2030 sebelum kemudian menurun. Salah satu tantangan yang dihadapi Indonesia dari bonus demografi ini adalah 60 persen dari penduduk berusia produktif tersebut belum siap bekerja.

“Selain tingkat kesejahteraan, industri penjualan langsung bisa menjadi salah satu jawaban untuk meningkatkan sumber daya manusia karena ada pelatihan di setiap jenjang,” kata Djoko.

Merujuk data World Federation Direct Selling Association, total nilai industri penjualan langsung di seluruh dunia pada 2014 sebesar 182,823 miliar dollar AS. Nilai transaksi penjualan langsung ini naik sekitar 14 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Hanya saja, kontribusi nilai industri penjualan langsung ini belum merata. Lima negara penyumbang terbesar di industri penjualan langsung global adalah Amerika Serikat yang berkontribusi sekitar 19 persen, Tiongkok 17 persen, Jepang 9 persen, Korea Selatan 9 persen, dan Brasil 7 persen.

Nilai Rp 12,6 triliun

Pada 2014, industri penjualan langsung di Indonesia melibatkan sekitar 11,74 juta penjual langsung. Rata-rata pertumbuhan tahunan industri penjualan langsung di Indonesia periode 2011-2014 sebesar 11,3 persen. “Nilai industri penjualan langsung di Indonesia pada 2014 sekitar Rp 12,6 triliun,” kata Djoko.

Djoko menuturkan, Apli telah mengusulkan agar pasal tentang larangan money game atau skema piramida dimasukkan dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan. Hal ini karena skema piramida tersebut kerap disamakan dengan praktik penjualan langsung. Ini membuat penetrasi penjualan langsung menjadi terkendala.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Apli Andam Dewi menuturkan, di Indonesia diperkirakan ada lebih dari 300 perusahaan yang bergerak dalam industri penjualan langsung. Sekitar 200 perusahaan di antaranya sudah memiliki surat izin usaha penjualan langsung (SIUPL). Sebanyak 86 perusahaan penjualan langsung merupakan anggota Apli.

“Saat ini Apli terus menyosialisasikan dan mengedukasi masyarakat tentang industri penjualan langsung dan perbedaannya dengan money game,” kata Andam Dewi.

Apli mendata delapan ciri-ciri penjualan langsung legal. Pertama, perusahaan penjualan langsung legal harus memiliki SIUPL dan izin edar produk yang dikeluarkan Badan Pengawasan Obat dan Makanan, Departemen Kesehatan, dan lainnya.

Kedua, setiap perusahaan penjualan langsung legal harus memiliki produk yang diperdagangkan atau diperjualbelikan. Ketiga, skema bisnis ditekankan pada penjualan produk dan bukan peringkat.

Keempat, pembayaran komisi didasarkan pada penjualan produk dan bukan kuantitas perekrutan. Kelima, anggota industri penjualan langsung masih bisa mendapat penghasilan dari penjualan produk meski tanpa merekrut.

Keenam, perusahaan penjualan langsung legal mempunyai sistem pengembalian produk yang rasional. Ketujuh, produk yang didagangkan perusahaan penjualan langsung memiliki nilai pasar wajar. Kedelapan, produk tersebut bernilai lebih sehingga menarik dibeli atau dikonsumsi masyarakat luas.


Leave a Reply